Fakultas Syariah

MENANTI DATANGNYA 1 SYAWAL 1446 H/2025 M

hilalPerbedaan penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah, terutama awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah di Indonesia sampai sekarang masih sering terjadi. Dalam sejarahnya, tercatat bahwa perbedaan awal bulan Hijriah tersebut terjadi sejak lama mulai dari masa penjajahan sampai Indonesia merdeka baik era Orde Lama, Orde Baru, maupun era reformasi seperti sekarang ini.

Pada masa kolonial Belanda berkuasa di Indonesia, sudah terjadi perbedaan penentuan awal Ramadan dan awal Syawal. Di Minangkabau, mulai tahun 1207 H/1792 M juga terjadi perbedaan penentuan awal Ramadan dan awal Syawal antara tarekat Syattariyah yang menggunakan rukyat dengan tarekat Naqsyabandiyah yang menggunakan hisab. Penetapan awal Ramadan tahun 1285 H/ 1868 M juga berbeda antara ahli rukyat dan ahli hisab. Pada saat itu pemerintah Belanda meminta seorang ulama Betawi yang bernama Sayyid Usman untuk meredam perbedaan tersebut dengan cara menjelaskan cara penetapan awal Ramadan oleh para ulama. Perbedaan awal Ramadan 1336 H/ 1918 M juga terjadi. Sesuai dengan perhitungan tradisional Jawa, penghulu telah memutuskan bahwa awal Ramadan tahun 1336 H jatuh pada hari Selasa 11 Juni 1918. Pengaruh yang semakin besar dari Muhammadiyah dan argumennya tentang hitungan astronomi murni atau hisab yang  harus digunakan untuk menentukan hari yang tepat untuk kegiatan keagamaan, memicu pertengkaran di kalangan komunitas muslim tentang awal Ramadan tersebut. Di Kudus dan Surakarta misalnya, penganut Muhammadiyah dan Sidik Amanat Tabligh Fatonah mengikuti keputusan yang berdasarkan hisab murni dan memulai puasa sehari lebih awal dari yang ditetapkan pangulu, yaitu pada hari Senin 10 Juni 1918.

Pada tahun 1930-an, perbedaan penentuan Ramadan dan Syawal juga terjadi. Peristiwa itu terlihat dari diskusi antara Mohammad Roem, diplomat ulung Indonesia sekaligus tokoh Masyumi, dengan temannya terkait persoalan perbedaan hari raya Lebaran. Perbedaan awal Syawal juga pernah terjadi pada tahun 1945 yang jatuh antara tanggal 7 September dan 8 September 1945. Ada dua hari raya Idul Fitri karena adanya perbedaan metode pengambilan pemutusan hari lebaran.

Pada masa Orde Baru, perbedaan penentuan awal Syawal juga terjadi seperti tahun 1405 H/1985 M, 1412 H/1992 M, 1413 H./1993 M, 1414 H/1994 M, dan tahun 1418 H/1998 M. Perbedaan tersebut masih berlanjut pada masa Reformasi seperti perbedaan Idul Adha tahun 1420 H/2000 M, awal Ramadan 1422 H/2001 M, Idul Fitri 1423 H/2002 M, Idul Adha 1423 H/2003 M, Idul Fitri tahun 1427 H/2006 M, 1428 H./2007 M, 1432 H/2011 M. Demikian juga awal Ramadan 1433 H/2012 M, 1424 H/2013 M, 1435 H/2014 M, Idul Adha 1435H/2014 M, dan 1436 H/2015 M.

Pada era Reformasi, berita perbedaan semakin marak di media sosial. Perbedaan yang kadang sampai beberapa hari tersebut terjadi dengan adanya penentuan awal bulan Hijriah dari kalangan Islam Aboge, Tarikat Naqsyabandiyah Padang, Jamaah An-Nazir Gowa, Jamaah Aolia Gunung Kidul. Yang demikian karena masing-masing kelompok mempunyai metode dan kriteria penentuan awal bulan yang berbeda.

Kapan jatuhnya 1 Syawal atau Idul Fitri 1446 H/2025 M? Menurut hasil hisab, ijtimak atau konjungsi akhir Ramadan 1446 H terjadi hari Sabtu Kliwon, 29 Maret 2025 M pukul 17:59:51,49WIB. Di seluruh wilayah Indonesia pada saat magrib 29 Ramadan 1446 H bertepatan 29 Maret 2025, berkisar antara -3,29o di Merauke, Papua sampai dengan -1,07 o di Sabang, Aceh. Sudut elongasi berkisar antara 1,06o di Kebumen, Jawa Tengah sampai dengan 1,61o di Oksibil, Papua.

Untuk pos pengamatan hilal di Purwokerto yaitu di Menara Teratai Purwokerto dengan Lintang tempat -7° 25′ 53″, Bujur tempat 109° 13′ 57″ dan Tinggi tempat 161 m dpl diperoleh data hilal pada saat magrib 29 Ramadan 1446 H/29 Maret 2025 M adalah tinggi hakiki hilal -1° 49’ 17,20’’, arah hilal 4° 18′ 16,66″ dari titik Barat ke Utara, posisi hilal 0° 51’ 49,88’’ di sebelah utara Matahari, dan sudut elongasi bulan 1° 3’ 21,40’’.

Jika mencermati hasil perhitungan astronomis seperti di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Menurut metode hisab wujudul hilal yang dipedomani Muhamadiyah, karena pada saat magrib hari Sabtu 29 Ramadan 1446 H/29 Maret 2025 keadaan hilal untuk seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk, maka Ramadan 1446 H digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari dan 1 Syawal 1446 H ditetapkan pada Senin Pahing, 31 Maret 2025 M. seperti pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025.
  2. Menurut metode hisab imkan rukyat Persis dengan kriteria beda tinggi bulan-matahari minimal 4° dan sudut elongasi minimal 6.4°, pada saat magrib hari Sabtu 29 Ramadan 1446 H/29 Maret 2025 posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia minus di bawah ufuk. Dengan demikian menurut hisab imkanur rukyat Persis, Ramadan 1446 H digenapkan (istikmal) 30 hari dan 1 Syawal 1446 H ditetapkan jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025 M. sebagaimana dalam Surat Edaran PP Persis Nomor: 1555/JJ-C.3/PP/2025.
  3. Menurut metode rukyat dengan kriteria imkanur rukyat tinggi bulan minimal 3° dan sudut elongasi minimal 6.4° yang digunakan oleh NU, keadaan hilal pada 29 Ramadan 1446H/29 Maret 2025 termasuk pada kategori istihalah rukyat (mustahil bisa dilihat), karena walaupun sudah terjadi ijtimak sebelum magrib, tapi keadaan hilal di seluruh wilayah Indonesia minus di bawah ufuk dan rukyat tidak mungkin berhasil. Dengan demikian Ramadan 1446 H digenapkan 30 hari, dan 1 Syawal 1446 H dapat dipastikan jatuh pada hari Senin Pahing, 31 Maret 2025. sebagaimana tercantum dalam Almanak PBNU.
  4. Menurut metode hisab dan rukyat dengan kriteria MABIMS Baru yaitu tinggi bulan minimal 3° dan sudut elongasi minimal 6.4° yang dipedomani oleh Kementerian Agama RI, di mana pada saat magrib hari Sabtu 29 Ramadan 1446 H/29 Maret 2025 sudah terjadi ijtimak, tapi keadaan hilal di seluruh wilayah Indonesia minus di bawah ufuk, maka Ramadan 1446 H digenapkan (istikmal) 30 hari dan 1 Syawal 1446 H kemungkinan besar jatuh pada hari Senin Pahing, 31 Maret 2025 M. Kepastiannya menunggu hasil sidang Isbat.

Dengan demikian, tiga ormas besar di Indonesia dan Kementerian Agama RI kemungkinan besar sama dalam penentuan 1 Syawal 1446 H/2025 M yang jatuh pada hari Senin Pahing, 31 Maret 2025 M.

Purwokerto, 29 Maret 2025

Penulis:

Dr. Marwadi, M.Ag. Kepala Pusat Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Bagikan:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Skip to content